Minggu, 02 Desember 2018

DEPRESI DI EROPA

Saya menulis ini berdasarkan analisa saya setelah 2.5tahun tinggal di Belanda. Mungkin saya belumlah lama disini dan belum mengenal lebih jauh bagaimana cara bersosialisasi penduduk disini.
Kebetulan saya tinggal di desa kecil disini yang mana transportasi tidaklah dekat. Setidaknya 15menit bersepeda untuk ke halte bis terdekat atau 30menit jalan. Mungkin kalau cuaca baik hal itu tidaklah masalah untuk berjalan atau naik sepeda ke bis halte terdekat. Tapi kalau cuaca buruk semisal hujan ,angin kencang atau badai. Hal itu adalah hal berat.
Apalagi dengan keadaan saya yang tidak memiliki kendaraan bermotor ( maklum belum punya SIM). Untuk memiliki SIM disini tidaklah mudah. Setidaknya menghabiskan €1500 untuk ikut kursus theori dan mengemudi berikut ujiannya. Itu juga kalau bisa langsung lulus. Kalau nggak maka harus mengulang lagi dan tentunya biaya lagi.
Meski hidup disini berdekatan dan tidak ada jarak pagar tapi untuk bisa menemui orang dijalan atau berbicara dengan tetangga untuk sekedar secangkir kopi kadang haruslah membuat janji. Tidak seperti di Indonesia kita bisa dengan mudah berkenalan dijalan,janjian dan jadilah teman. Disini orang tidaklah mudah mendekat atau menjadi teman dengan orang baru. Kalaupun ada mungkin bisa dihitung dengan jari.
Mereka disini lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah dan kalau dimusim panas mereka akan banyak menghabiskan waktu dipantai, cafe atau teras cafe atau bepergian.
Terbayangkan kalau jadi orang baru disini atau penduduk yang tidak mempunyai keluarga atau teman dekat. Terus cuaca buruk dan jadinya seharian dirumah. Maka tekanan depresi sangatlah besar.
Mungkin kita di Indonesia selalu ada keluarga disekitar kita. Tapi disini untuk menjadi sebatang kara sangatlah mungkin. Karna seorang anak atau orang tua akan bisa saling menjauhi kalau mereka tidak saling cocok.